Jakarta, 2 September 2026 – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat komoditas tembaga menjadi penopang utama kinerja ekspor Nusa Tenggara Barat (NTB) sepanjang Juli 2026. Nilai ekspor tembaga mencapai 155,36 juta dolar AS atau sekitar 93,55 persen dari total ekspor NTB yang tercatat sebesar 166,08 juta dolar AS. Komoditas tersebut berupa katoda tembaga yang dihasilkan dari industri pengolahan dan pemurnian atau smelter. Dominasi tembaga membuat struktur ekspor NTB pada Juli sangat bergantung pada komoditas hasil industri tersebut. Kondisi ini sekaligus menunjukkan semakin besarnya peran kegiatan hilirisasi mineral terhadap perdagangan luar negeri NTB. Kinerja tersebut menjadi salah satu faktor penting yang mendorong pertumbuhan nilai ekspor daerah.
Kepala BPS NTB Wahyudin menjelaskan bahwa tembaga menjadi komoditas dengan kontribusi terbesar dibandingkan seluruh kelompok barang yang diekspor dari NTB. Produk katoda tembaga hasil smelter tersebut dipasarkan ke sejumlah negara di kawasan Asia. Beberapa negara tujuan utama ekspor tembaga NTB adalah China, Thailand, dan Korea Selatan. Pengiriman dilakukan melalui Pelabuhan Tanjung Perak di Surabaya sebelum produk tersebut diteruskan ke negara tujuan. Pola perdagangan tersebut menunjukkan bahwa aktivitas industri pengolahan mineral di NTB memiliki keterkaitan dengan jaringan logistik dan perdagangan internasional yang lebih luas. Peningkatan kapasitas industri tersebut juga berpotensi memperkuat posisi NTB dalam rantai pasok komoditas mineral.
Di luar tembaga, komoditas perhiasan dan permata menjadi penyumbang ekspor terbesar kedua NTB pada Juli 2026. Nilai ekspor kelompok tersebut mencapai 7,65 juta dolar AS atau sekitar 4,60 persen dari keseluruhan ekspor. Produk yang termasuk dalam kelompok tersebut antara lain perak dan mutiara hasil budidaya. Komoditas tersebut dikirim ke sejumlah pasar internasional, termasuk Uni Emirat Arab, Thailand, dan Jepang. Sementara itu, kelompok ikan dan udang memberikan kontribusi sebesar 2,66 juta dolar AS atau sekitar 1,60 persen. Produk yang dikirim mencakup udang vaname, tuna, tuna sirip kuning beku, serta lobster dengan tujuan pasar seperti Amerika Serikat dan Malaysia.
Kinerja ekspor NTB pada Juli juga menunjukkan pertumbuhan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Nilai ekspor sebesar 166,08 juta dolar AS tersebut meningkat 38,90 persen dibandingkan Juli 2025. Kenaikan tersebut terutama dipengaruhi peningkatan ekspor barang non-tambang pada kelompok tembaga dan perak hasil industri smelter, serta komoditas ikan dan udang. Pertumbuhan tersebut memperlihatkan bahwa aktivitas industri pengolahan memberikan kontribusi besar terhadap peningkatan nilai perdagangan luar negeri NTB. Selain meningkatkan nilai ekspor, keberadaan industri pengolahan juga memperkuat posisi produk daerah yang memiliki nilai tambah lebih tinggi. Pemerintah daerah dapat memanfaatkan perkembangan tersebut untuk mendorong penguatan sektor-sektor produktif lainnya.
Jika dilihat berdasarkan negara tujuan, China menjadi pasar terbesar bagi produk ekspor NTB. Nilai ekspor ke negara tersebut mencapai sekitar 81 juta dolar AS atau 49 persen dari total ekspor NTB. Thailand berada di posisi berikutnya dengan nilai sekitar 50,3 juta dolar AS atau 30,34 persen, kemudian Korea Selatan sekitar 17,5 juta dolar AS atau 10,55 persen. Selain itu, NTB juga mencatat ekspor ke Vietnam, Taiwan, Uni Emirat Arab, Amerika Serikat, Jepang, dan sejumlah negara lainnya. Konsentrasi tujuan ekspor di sejumlah negara Asia menunjukkan kuatnya hubungan perdagangan NTB dengan kawasan tersebut. Diversifikasi pasar tetap menjadi salah satu aspek yang dapat diperhatikan untuk menjaga stabilitas ekspor apabila terjadi perubahan permintaan di negara tujuan utama.
Secara kumulatif, nilai ekspor NTB selama Januari hingga Juli 2026 mencapai sekitar 1,51 miliar dolar AS. Angka tersebut melonjak 368,49 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025. Pertumbuhan secara kumulatif tersebut terutama berkaitan dengan peningkatan aktivitas ekspor produk hasil industri pengolahan mineral. Kinerja tersebut menjadi perubahan signifikan dibandingkan periode sebelumnya ketika nilai ekspor NTB belum mencapai angka setinggi itu. Peningkatan ekspor juga memberikan pengaruh terhadap posisi perdagangan luar negeri daerah. Dengan nilai ekspor yang jauh lebih besar daripada impor, NTB mencatat surplus neraca perdagangan dalam tujuh bulan pertama 2026.
Dari sisi impor, nilai impor NTB sepanjang Januari hingga Juli 2026 tercatat sebesar 47,87 juta dolar AS. Angka tersebut mengalami penurunan sekitar 72,03 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pada Juli 2026 saja, nilai impor NTB mencapai 4,84 juta dolar AS. Komoditas karet dan barang dari karet menjadi kelompok impor terbesar dengan nilai sekitar 2,76 juta dolar AS atau 56,90 persen dari total impor bulan tersebut. Produk yang didatangkan antara lain ban dan gasket yang berasal dari Jepang dan Australia. Sebagian besar kegiatan impor tersebut masuk melalui Pelabuhan Benete di Kabupaten Sumbawa Barat.
Perbedaan yang sangat besar antara nilai ekspor dan impor membuat neraca perdagangan NTB mencatat surplus sekitar 1,47 miliar dolar AS selama Januari hingga Juli 2026. Kondisi tersebut memperlihatkan besarnya kontribusi aktivitas ekspor terhadap perdagangan luar negeri daerah. Namun, dominasi satu komoditas dalam struktur ekspor juga menjadi perhatian karena perubahan harga maupun permintaan tembaga di pasar internasional dapat memengaruhi kinerja perdagangan NTB. Karena itu, pengembangan komoditas ekspor lain tetap diperlukan agar struktur perdagangan daerah menjadi lebih beragam. Sektor perikanan, hasil pertanian, perhiasan, serta produk industri lainnya memiliki peluang untuk terus dikembangkan. Diversifikasi tersebut dapat menjadi strategi untuk menjaga pertumbuhan ekspor agar tidak terlalu bergantung pada satu komoditas.
Kinerja ekspor Juli 2026 pada akhirnya menunjukkan bahwa industri pengolahan tembaga telah menjadi salah satu penggerak utama perdagangan luar negeri NTB. Kontribusi sebesar 93,55 persen memperlihatkan besarnya perubahan struktur ekspor setelah berkembangnya kegiatan hilirisasi mineral di daerah tersebut. Pemerintah dan pelaku usaha diharapkan dapat menjaga kesinambungan industri sekaligus memperluas basis komoditas ekspor. Penguatan nilai tambah produk di dalam negeri juga dapat terus didorong agar manfaat kegiatan perdagangan tidak hanya berasal dari peningkatan volume ekspor. Dengan mempertahankan pertumbuhan sekaligus memperluas diversifikasi produk dan pasar, NTB memiliki peluang memperkuat kontribusinya terhadap perdagangan nasional.





