Jakarta, 30 Agustus 2026 – Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto mendorong perguruan tinggi memperkuat kontribusi dalam membangun kemandirian desa melalui riset, inovasi, dan pemberdayaan masyarakat.
Brian menyampaikan dorongan tersebut saat membuka Festival Desa Energi Berdikari Pertamina 2026 pada Kamis (27/8/2026). Menurutnya, desa binaan dapat menjadi ruang bagi perguruan tinggi untuk mengembangkan penelitian sekaligus menerapkan solusi yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
Ia menekankan bahwa hasil riset perguruan tinggi seharusnya tidak berhenti di ruang kelas, laboratorium, atau jurnal ilmiah. Pengetahuan dan inovasi yang dihasilkan perlu diterapkan untuk menyelesaikan persoalan nyata yang dihadapi masyarakat.
Riset Kampus Harus Menjawab Kebutuhan Desa
Brian mendorong perguruan tinggi mengembangkan riset terapan dan teknologi tepat guna yang dapat digunakan secara langsung di desa. Dosen dan mahasiswa juga diharapkan terlibat dalam proses tersebut.
Salah satu bentuk keterlibatan yang dapat dilakukan adalah melalui Kuliah Kerja Nyata (KKN) tematik. Program tersebut dapat disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing desa, termasuk persoalan energi, pengelolaan sampah, air, hingga pengembangan potensi ekonomi lokal.
Menurut Brian, keterlibatan kampus tidak cukup hanya dengan menghadirkan teknologi. Masyarakat harus ditempatkan sebagai bagian dari proses pemberdayaan sehingga mampu mengembangkan program secara mandiri.
“Desa ini harus sama-sama kita berdayakan,” tegas Brian.
Masyarakat Perlu Dibekali Kemampuan
Selain penerapan teknologi, penguatan kapasitas masyarakat menjadi perhatian penting. Brian menilai masyarakat desa perlu memiliki kemampuan untuk mengoperasikan sekaligus merawat teknologi yang diterapkan.
Pelatihan dan sertifikasi bagi pemuda desa dapat menjadi salah satu cara untuk membangun kemampuan tersebut. Dengan memiliki keterampilan yang memadai, masyarakat tidak hanya menjadi penerima teknologi, tetapi juga dapat menjadi pengelola dan pengembangnya.
Pendekatan tersebut diharapkan membuat program pemberdayaan memiliki manfaat jangka panjang. Keberhasilan tidak hanya diukur dari jumlah teknologi atau bantuan yang diberikan, tetapi dari kemampuan masyarakat mempertahankan dan mengembangkan hasil program.
Pertamina Buka Ruang Kolaborasi
Pada kesempatan yang sama, Wakil Direktur Utama PT Pertamina Oki Muraza memaparkan pengembangan Desa Energi Berdikari, termasuk di Pulau Sembur, Kepulauan Riau.
Di wilayah tersebut, energi surya dimanfaatkan untuk mendukung aktivitas masyarakat nelayan, termasuk melalui penyediaan pabrik es dan cold storage. Pemanfaatan energi tersebut diarahkan untuk meningkatkan nilai tambah hasil perikanan masyarakat.
Pertamina juga mendorong semakin banyak perguruan tinggi dan tokoh masyarakat lokal terlibat dalam pengembangan program Desa Energi Berdikari. Kolaborasi tersebut diharapkan dapat memperkuat penerapan teknologi sesuai karakteristik dan kebutuhan setiap wilayah.
Hingga Agustus 2026, Pertamina telah menjalankan 269 program Desa Energi Berdikari dan menargetkan jumlah tersebut meningkat menjadi 332 program pada akhir 2026. Programnya mencakup energi baru terbarukan, ketahanan pangan, pengembangan masyarakat pesisir, pengelolaan lingkungan, serta teknologi tepat guna.
Kampus Jadi Penghubung Riset dan Masyarakat
Kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat dinilai dapat mempercepat pemanfaatan hasil riset di tingkat desa.
Perguruan tinggi memiliki sumber daya berupa pengetahuan, teknologi, dosen, mahasiswa, dan jaringan penelitian. Sementara itu, masyarakat desa memahami kebutuhan serta potensi lokal yang dapat menjadi dasar pengembangan solusi.
Model kolaborasi tersebut memungkinkan inovasi yang dikembangkan kampus tidak hanya menjadi produk penelitian, tetapi benar-benar digunakan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Brian sebelumnya juga menilai pengembangan energi surya di desa dapat membuka ruang riset yang luas bagi perguruan tinggi, mulai dari studi kelayakan lokasi hingga pendampingan pengelolaan pembangkit.
Dorong Desa Makin Mandiri
Upaya memperkuat peran kampus dalam pembangunan desa sejalan dengan agenda pemerintah untuk meningkatkan kemandirian ekonomi masyarakat dari tingkat bawah.
Brian menilai keberlanjutan harus menjadi ukuran penting dalam setiap program pemberdayaan. Desa diharapkan tidak terus bergantung pada bantuan, melainkan mampu mengelola teknologi, sumber daya, dan potensi ekonomi yang dimiliki.
Dengan mempertemukan riset perguruan tinggi dan kebutuhan masyarakat, kampus diharapkan dapat memberikan kontribusi yang lebih nyata terhadap pembangunan desa. Dosen dan mahasiswa bukan hanya menjadi pelaksana kegiatan, tetapi juga mitra masyarakat dalam menciptakan solusi yang dapat bertahan dan berkembang.
Penguatan kolaborasi tersebut pada akhirnya diharapkan mampu menjadikan desa sebagai ruang inovasi sekaligus mempercepat terwujudnya masyarakat yang lebih mandiri secara ekonomi, energi, dan pengelolaan sumber daya.








