Jakarta, 30 Juli 2026 – Anggota DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan Deddy Yevri Hanteru Sitorus memberikan penjelasan setelah ucapannya yang memuat frasa “kayak sirkus” memicu keberatan dari wartawan yang bertugas di lingkungan parlemen. Sejumlah jurnalis merasa ucapan tersebut merendahkan mereka ketika sedang menjalankan tugas peliputan di DPR. Polemik kemudian berkembang setelah wartawan meminta klarifikasi sekaligus permintaan maaf atas pernyataan yang dianggap tidak pantas tersebut. Deddy akhirnya buka suara untuk menjelaskan konteks perkataannya dan merespons keberatan yang muncul. Persoalan itu pun menjadi perhatian karena menyangkut hubungan antara anggota parlemen dan pekerja media di ruang publik.
Deddy menjelaskan bahwa ucapan “kayak sirkus” tidak dimaksudkan untuk menghina profesi wartawan. Pernyataan tersebut menurut penjelasannya muncul dalam konteks situasi ketika banyak jurnalis berkumpul dan melakukan wawancara secara bersamaan. Namun, penggunaan frasa tersebut kemudian dipersepsikan berbeda oleh sejumlah wartawan yang berada di lokasi. Mereka menilai pilihan kata itu tidak tepat karena dapat memberikan kesan merendahkan pekerjaan jurnalistik. Perbedaan pemaknaan inilah yang kemudian berkembang menjadi polemik di lingkungan parlemen.
Bagi wartawan DPR, kegiatan wawancara secara berkelompok merupakan bagian dari rutinitas peliputan, terutama ketika anggota legislatif memberikan keterangan mengenai isu yang sedang menjadi perhatian publik. Banyak media dapat mengajukan pertanyaan pada waktu bersamaan karena masing-masing membutuhkan informasi untuk pembacanya. Situasi tersebut memang dapat terlihat ramai, tetapi merupakan konsekuensi dari tingginya kebutuhan informasi terhadap kegiatan parlemen. Wartawan menilai kondisi semacam itu seharusnya dipahami sebagai bagian dari pekerjaan media. Karena itu, penggunaan istilah yang dianggap merendahkan memunculkan reaksi dari kalangan jurnalis.
Polemik semakin berkembang setelah muncul dorongan agar Deddy menyampaikan permintaan maaf. Wartawan parlemen bahkan menyatakan kesiapan membawa persoalan tersebut ke Mahkamah Kehormatan Dewan apabila tidak ada penyelesaian dalam batas waktu yang diberikan. Langkah itu menunjukkan bahwa persoalan tidak lagi dipandang hanya sebagai perbedaan persepsi terhadap sebuah ucapan. Sebagian wartawan menganggap terdapat persoalan penghormatan terhadap profesi yang perlu mendapatkan respons serius. Meski demikian, jalur dialog tetap menjadi ruang penting untuk menyelesaikan perbedaan sebelum berkembang menjadi proses etik.
Deddy memiliki kesempatan menjelaskan secara lengkap maksud dari pernyataannya agar tidak menimbulkan interpretasi yang berbeda. Dalam komunikasi publik, maksud pembicara dan bagaimana perkataan diterima oleh pihak lain tidak selalu menghasilkan pemahaman yang sama. Klarifikasi dapat membantu menjelaskan konteks, tetapi respons terhadap pihak yang merasa dirugikan juga menentukan apakah polemik dapat mereda. Apabila sebuah istilah menimbulkan keberatan, komunikasi langsung dapat digunakan untuk menemukan titik temu. Hal tersebut menjadi semakin penting ketika pihak yang terlibat sama-sama menjalankan fungsi publik.
Hubungan antara DPR dan media memiliki posisi strategis dalam kehidupan demokrasi. Anggota parlemen membutuhkan media untuk menyampaikan kebijakan, pandangan, dan hasil kerja kepada masyarakat, sementara wartawan membutuhkan akses kepada anggota DPR untuk memperoleh informasi yang memiliki kepentingan publik. Pertanyaan kritis maupun situasi wawancara yang ramai menjadi bagian dari interaksi tersebut. Kedua pihak tetap memiliki tanggung jawab menjaga profesionalitas dan menghormati fungsi masing-masing. Konflik komunikasi yang muncul seharusnya tidak berkembang menjadi hambatan terhadap akses informasi masyarakat.
Kasus tersebut juga memperlihatkan besarnya dampak pilihan kata seorang pejabat publik. Pernyataan yang disampaikan secara spontan dapat dengan cepat tersebar melalui rekaman video, pemberitaan, dan media sosial sehingga konteksnya menjadi bahan perdebatan luas. Anggota DPR berada dalam posisi yang membuat perkataan mereka mendapat perhatian lebih besar dibandingkan komunikasi pribadi. Karena itu, kehati-hatian diperlukan ketika memberikan respons kepada wartawan maupun masyarakat. Di sisi lain, penyajian konteks secara lengkap juga penting agar publik dapat memahami rangkaian kejadian sebelum membentuk penilaian.
Klarifikasi Deddy Sitorus atas ucapan “kayak sirkus” kini menjadi bagian penting dalam upaya meredakan ketegangan dengan wartawan parlemen. Penjelasan bahwa pernyataan tersebut tidak dimaksudkan sebagai penghinaan dapat menjadi dasar untuk membuka komunikasi lebih lanjut, sementara keberatan para jurnalis tetap menjadi hal yang perlu diperhatikan. Apabila persoalan tidak dapat diselesaikan melalui dialog, mekanisme etik di DPR tersedia untuk menilai pengaduan berdasarkan fakta dan ketentuan yang berlaku. Polemik ini sekaligus mengingatkan pentingnya hubungan profesional antara wakil rakyat dan media. Keterbukaan informasi akan berjalan lebih baik ketika perbedaan dapat diselesaikan tanpa mengurangi penghormatan terhadap tugas masing-masing pihak.





