Deliserdang, 13 September 2026 – Gubernur Sumatera Utara Muhammad Bobby Afif Nasution meminta masyarakat menghentikan komentar negatif dan perundungan terhadap siswa yang menjadi korban dugaan keracunan program Makan Bergizi Gratis di Kabupaten Karo. Permintaan tersebut disampaikan setelah pemerintah menemukan bahwa proses pemulihan sejumlah korban tidak hanya berkaitan dengan kondisi fisik, tetapi juga kesehatan mental dan psikologis. Sebagian siswa disebut mengalami tekanan setelah kasus yang mereka alami menjadi perhatian luas dan mendapat berbagai komentar di media sosial. Bobby menilai situasi seperti itu justru dapat memberikan beban tambahan kepada anak-anak yang sedang menjalani proses pemulihan. Ia meminta masyarakat memberikan ruang agar korban dapat menjalani pengobatan dan pendampingan dengan tenang. Media dan pengguna media sosial juga diharapkan tidak mengekspos kondisi korban secara berlebihan, terutama dengan komentar yang berpotensi mengarah pada perundungan.
Bobby menyampaikan perhatian khusus saat melepas dua siswa korban dugaan keracunan MBG asal Karo yang dirujuk ke Jakarta untuk mendapatkan pemeriksaan dan penanganan lebih lanjut. Kedua siswa tersebut dinilai membutuhkan perhatian lebih intensif karena kondisi medis dan trauma yang mereka alami lebih berat dibandingkan sejumlah korban lainnya. Pemerintah memilih membawa keduanya ke Jakarta setelah terdapat arahan agar penanganan dilakukan secara langsung dan terus dipantau. Tim dokter dari Sumatera Utara turut mendampingi proses tersebut sehingga perkembangan kondisi pasien dapat tetap diawasi selama perjalanan maupun setelah tiba di rumah sakit tujuan. Orang tua korban juga mendampingi anak masing-masing dalam proses perawatan. Langkah rujukan dilakukan sebagai upaya memastikan seluruh aspek kesehatan korban mendapatkan penanganan yang sesuai dengan kebutuhan.
Menurut Bobby, penanganan terhadap korban tidak dapat hanya berfokus pada keluhan fisik setelah dugaan keracunan. Kondisi mental dan psikologis juga menjadi bagian penting yang harus diperhatikan karena pengalaman sakit dan berbagai reaksi yang muncul setelah kejadian dapat meninggalkan trauma. Pemeriksaan psikologis terhadap sebagian korban menunjukkan adanya tekanan yang berkaitan dengan komentar negatif dan perundungan di ruang digital. Situasi tersebut menjadi perhatian karena anak-anak yang seharusnya memperoleh dukungan justru dapat merasakan tekanan tambahan dari lingkungan di luar keluarga dan tenaga kesehatan. Bobby meminta masyarakat memahami bahwa setiap korban dapat menunjukkan proses pemulihan yang berbeda. Karena itu, penilaian mengenai kondisi anak sebaiknya diserahkan kepada dokter dan tenaga profesional yang melakukan pemeriksaan secara langsung.
Tim medis bahkan telah meminta sejumlah siswa mengurangi aktivitas di media sosial selama menjalani proses pemulihan. Langkah tersebut bertujuan membatasi paparan terhadap komentar atau pembahasan yang berpotensi memengaruhi kondisi psikologis mereka. Bobby berharap langkah yang dilakukan tenaga medis juga diikuti dengan sikap masyarakat yang lebih berhati-hati dalam memberikan komentar. Menurutnya, perhatian publik terhadap kasus MBG tetap diperlukan, tetapi pembahasan mengenai kebijakan dan evaluasi program sebaiknya tidak berubah menjadi serangan personal kepada anak-anak yang menjadi korban. Kritik terhadap penyelenggaraan program tetap dapat disampaikan tanpa menjadikan kondisi pribadi korban sebagai bahan perdebatan. Fokus utama pada tahap ini adalah memastikan siswa mendapatkan kesempatan untuk pulih secara fisik maupun psikologis.
Kasus dugaan keracunan MBG di Kabupaten Karo sebelumnya terjadi pada 13 Agustus 2026 dan menyebabkan ratusan siswa mengalami gangguan kesehatan. Data yang disampaikan Pemerintah Provinsi Sumatera Utara pada pertengahan Agustus mencatat sedikitnya 353 murid terdampak setelah mengonsumsi makanan yang dibagikan melalui program tersebut. Sejumlah korban mengalami keluhan dengan tingkat keparahan berbeda sehingga sebagian membutuhkan perawatan lebih intensif. Pemerintah daerah sejak awal menilai kejadian tersebut sebagai peristiwa serius karena melibatkan anak-anak dalam jumlah besar. Penanganan kemudian dilakukan melalui fasilitas kesehatan di Karo dan sejumlah rumah sakit rujukan di Sumatera Utara. Perkembangan kesehatan beberapa siswa terus dipantau bahkan setelah mereka diperbolehkan meninggalkan rumah sakit.
Salah satu kondisi yang kemudian mendapatkan perhatian adalah dugaan gangguan ingatan yang dialami seorang siswi berusia 16 tahun setelah menjalani perawatan. Bobby sebelumnya mengatakan pemerintah masih menunggu hasil pemeriksaan medis untuk mengetahui secara lebih jelas penyebab keluhan tersebut. Pemeriksaan dilakukan tidak hanya terhadap kondisi fisik, tetapi juga bagian saraf dan aspek psikologis korban. Pemerintah tidak ingin mengambil kesimpulan sebelum dokter menyelesaikan pemeriksaan karena trauma setelah mengalami kejadian keracunan juga dapat memengaruhi kondisi seseorang. Pemantauan dilakukan secara menyeluruh agar penanganan yang diberikan sesuai dengan hasil evaluasi tenaga medis. Kondisi tersebut kemudian menjadi salah satu alasan perhatian terhadap kesehatan psikologis korban semakin diperkuat.
Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka sebelumnya juga mengunjungi sejumlah siswa korban dugaan keracunan MBG yang menjalani perawatan di Kabupaten Karo. Dalam kunjungan tersebut, pemerintah memastikan pelayanan kesehatan tetap diberikan hingga kondisi korban benar-benar pulih. Keluarga juga mendapatkan kesempatan menyampaikan kondisi dan kebutuhan selama proses perawatan berlangsung. Pemerintah menyatakan biaya pengobatan korban akan ditangani sehingga keluarga tidak perlu terbebani persoalan pembiayaan. Opsi rujukan ke rumah sakit di Medan maupun Jakarta turut disediakan apabila berdasarkan pertimbangan medis diperlukan penanganan lebih lanjut. Setelah evaluasi dilakukan, dua siswa akhirnya diberangkatkan menuju Jakarta dengan pendampingan orang tua dan tenaga medis.
Pemerintah Provinsi Sumatera Utara menegaskan pendampingan terhadap korban akan tetap dilakukan meskipun sebagian siswa secara fisik telah menunjukkan perkembangan. Pengalaman mengalami gangguan kesehatan secara massal dapat memberikan dampak yang berbeda terhadap setiap anak sehingga proses pemulihan tidak selalu selesai ketika keluhan fisik mereda. Kondisi psikologis, rasa takut, kecemasan, hingga respons terhadap pemberitaan dan percakapan di media sosial juga perlu diperhatikan. Karena itulah Bobby meminta lingkungan sosial ikut menciptakan suasana yang mendukung proses penyembuhan. Masyarakat dapat tetap mengawasi penanganan kasus dan meminta evaluasi terhadap pelaksanaan MBG tanpa memberikan tekanan kepada siswa yang terdampak. Perlindungan terhadap anak dinilai harus menjadi perhatian bersama selama kasus tersebut masih dalam proses penanganan.
Permintaan menghentikan komentar negatif tidak dimaksudkan untuk menghentikan pembahasan mengenai penyebab maupun pertanggungjawaban atas kejadian tersebut. Evaluasi terhadap keamanan makanan, proses pengolahan, distribusi, serta pelayanan kepada korban tetap menjadi bagian penting yang harus dilakukan oleh instansi terkait. Namun, pembahasan kebijakan perlu dipisahkan dari komentar yang menyasar kondisi personal korban. Anak-anak yang mengalami gangguan kesehatan berada dalam posisi yang membutuhkan perlindungan dan tidak seharusnya menjadi sasaran perundungan. Bobby mengingatkan bahwa tekanan dari luar dapat menghambat proses pemulihan mental yang sedang dijalani. Pemerintah karena itu meminta perhatian publik diarahkan pada dukungan terhadap penyembuhan korban sekaligus perbaikan penyelenggaraan program agar kejadian serupa tidak terulang.
Bobby berharap masyarakat memberikan kesempatan kepada tim dokter untuk menyelesaikan pemeriksaan dan menentukan penanganan terbaik bagi setiap siswa. Dua korban yang membutuhkan perhatian lebih lanjut telah dirujuk ke Jakarta dengan pendampingan tenaga medis dari Sumatera Utara sehingga perkembangan kondisinya dapat terus dipantau. Sementara korban lainnya tetap mendapatkan pendampingan sesuai kebutuhan kesehatan masing-masing. Pemerintah daerah juga akan mengikuti perkembangan fisik dan psikologis para siswa hingga proses pemulihan dinilai berjalan baik. Masyarakat diminta tidak memperburuk keadaan melalui komentar negatif, spekulasi, ataupun perundungan di media sosial. Bagi Bobby, prioritas saat ini adalah membantu anak-anak kembali pulih tanpa tambahan tekanan dari lingkungan di luar proses perawatan.





