Jakarta, 31 Juli 2026 – Kehadiran pelican crossing di kawasan Jalan Kapten Tendean, Jakarta Selatan, mendapat sambutan positif dari warga karena memberikan akses penyeberangan yang lebih mudah bagi pejalan kaki. Fasilitas tersebut menjadi solusi untuk membantu masyarakat melintasi ruas jalan dengan lalu lintas padat setelah keberadaan jembatan penyeberangan orang atau JPO sebelumnya tidak lagi dapat digunakan. Meski merasa terbantu, sejumlah warga berharap JPO di kawasan tersebut dapat segera dibangun kembali sebagai pilihan penyeberangan tambahan. Tingginya aktivitas kendaraan membuat keselamatan pejalan kaki menjadi perhatian utama, terutama pada jam sibuk pagi dan sore. Pelican crossing diharapkan mampu memberikan perlindungan sementara sekaligus meningkatkan keteraturan interaksi antara kendaraan dan pejalan kaki.
Pelican crossing memungkinkan pejalan kaki menyeberang dengan bantuan lampu lalu lintas yang memberikan waktu khusus bagi mereka untuk melintasi jalan. Sistem tersebut membuat kendaraan harus berhenti ketika fase penyeberangan aktif sehingga masyarakat tidak perlu mencari celah di antara arus kendaraan. Bagi warga yang setiap hari menggunakan transportasi umum atau berjalan menuju tempat kerja, keberadaan fasilitas ini dapat mempersingkat perjalanan dibandingkan harus mencari titik penyeberangan yang lebih jauh. Kemudahan tersebut menjadi salah satu alasan warga menyambut fasilitas baru. Namun, efektivitasnya tetap bergantung pada kepatuhan pengguna jalan terhadap lampu pengatur lalu lintas.
Kawasan Tendean merupakan salah satu koridor dengan mobilitas tinggi karena menjadi penghubung berbagai pusat aktivitas di Jakarta Selatan. Arus kendaraan pribadi, angkutan umum, sepeda motor, dan pejalan kaki bertemu dalam ruang jalan yang sama sehingga fasilitas keselamatan menjadi kebutuhan penting. Pada jam sibuk, volume kendaraan dapat membuat penyeberangan tanpa pengaturan memiliki risiko tinggi. Pelican crossing membantu memberikan kepastian waktu kepada pejalan kaki sekaligus mengatur kendaraan agar berhenti secara terkoordinasi. Penempatan fasilitas perlu terus dievaluasi untuk memastikan durasi lampu cukup bagi berbagai kelompok pengguna.
Harapan agar JPO dibangun kembali muncul karena sebagian warga menilai fasilitas tersebut tetap dibutuhkan untuk melengkapi pelican crossing. JPO memungkinkan pergerakan pejalan kaki dan kendaraan berlangsung pada tingkat berbeda sehingga arus lalu lintas tidak perlu berhenti ketika seseorang menyeberang. Pada koridor dengan volume kendaraan tinggi, pilihan tersebut dapat membantu mengurangi konflik antara kendaraan dan pejalan kaki. Namun, desain JPO perlu memperhatikan kemudahan penggunaan agar masyarakat benar-benar memilih fasilitas tersebut. Akses yang terlalu jauh atau sulit justru dapat membuat pejalan kaki kembali memilih menyeberang di permukaan jalan.
Aspek aksesibilitas menjadi perhatian penting apabila pembangunan JPO dilakukan kembali. Fasilitas idealnya tidak hanya mengandalkan tangga, tetapi mempertimbangkan kebutuhan penyandang disabilitas, lansia, ibu dengan anak, serta masyarakat yang membawa barang. Lift atau jalur akses yang sesuai dapat membuat JPO digunakan oleh kelompok masyarakat yang lebih luas. Kebersihan, pencahayaan, keamanan, dan perlindungan dari cuaca juga memengaruhi kenyamanan. JPO yang mudah digunakan dapat menjadi bagian dari perjalanan harian, bukan sekadar infrastruktur yang berdiri di atas jalan.
Keberadaan pelican crossing dan kemungkinan pembangunan JPO sebenarnya dapat saling melengkapi apabila dirancang berdasarkan kebutuhan kawasan. Pelican crossing memberikan akses langsung di permukaan bagi masyarakat yang membutuhkan jalur tanpa tangga, sementara JPO dapat menampung pergerakan pejalan kaki tanpa menghentikan kendaraan. Pemerintah daerah perlu melihat pola pergerakan masyarakat untuk menentukan sistem yang paling efektif. Data jumlah penyeberang, volume kendaraan, waktu tunggu, hingga potensi kecelakaan dapat menjadi dasar evaluasi. Infrastruktur yang dibangun berdasarkan pola penggunaan memiliki peluang lebih besar untuk dimanfaatkan secara optimal.
Disiplin pengguna jalan tetap menjadi faktor penting selama pelican crossing digunakan. Pengendara harus berhenti ketika lampu memberikan hak kepada pejalan kaki untuk menyeberang dan tidak memasuki area penyeberangan ketika arus sedang berhenti. Pejalan kaki juga perlu mengikuti sinyal dan tidak memaksakan menyeberang ketika kendaraan mendapat giliran melintas. Sosialisasi dapat dilakukan pada tahap awal agar masyarakat memahami mekanisme fasilitas tersebut. Pengawasan juga diperlukan apabila masih ditemukan pelanggaran yang berpotensi membahayakan pengguna jalan.
Sambutan warga terhadap pelican crossing di Tendean menunjukkan kebutuhan besar terhadap fasilitas penyeberangan yang aman dan mudah digunakan di kawasan dengan mobilitas tinggi. Kehadirannya memberikan alternatif bagi masyarakat setelah akses JPO sebelumnya tidak tersedia, tetapi harapan pembangunan kembali jembatan tersebut tetap muncul. Pemerintah perlu memastikan setiap solusi mengutamakan keselamatan, aksesibilitas, dan kenyamanan pejalan kaki tanpa mengabaikan kelancaran lalu lintas. Evaluasi terhadap penggunaan pelican crossing dapat menjadi dasar menentukan kebutuhan infrastruktur berikutnya. Apabila JPO kembali dibangun dengan desain yang inklusif dan terintegrasi dengan transportasi publik, kawasan Tendean dapat memiliki sistem penyeberangan yang lebih lengkap bagi seluruh pengguna jalan.





