Palangka Raya, 29 Agustus 2026 – Polda Kalimantan Tengah memperkuat kesiapsiagaan menghadapi ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dengan menerima tambahan 48 personel Bantuan Kendali Operasi (BKO) Satgas Edukasi Karhutla dari Lembaga Pendidikan dan Pelatihan (Lemdiklat) Polri. Dukungan tersebut disertai bantuan sarana dan prasarana dari Kapolri untuk memperkuat upaya pencegahan serta penanganan kebakaran di wilayah Kalimantan Tengah. Wakapolda Kalteng Brigjen Pol Yosi Muhamartha mengatakan puluhan personel tambahan itu akan diperbantukan ke sejumlah Polres jajaran. Mereka akan menjalankan tugas edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat mengenai bahaya pembakaran lahan serta langkah pencegahan karhutla. Penguatan personel tersebut dilakukan ketika potensi kebakaran masih menjadi perhatian serius di tengah kondisi musim kemarau.
Yosi menjelaskan, keberadaan personel tambahan tidak hanya diarahkan untuk mendukung penanganan ketika kebakaran sudah terjadi. Para personel juga memiliki tugas penting dalam memberikan edukasi kepada masyarakat agar memahami risiko dan dampak pembakaran lahan. Edukasi tersebut diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya mencegah munculnya titik api sejak awal. Menurut kepolisian, pencegahan menjadi bagian penting karena karhutla dapat berkembang dengan cepat dan menimbulkan dampak yang luas terhadap lingkungan maupun aktivitas warga. Karena itu, penguatan pendekatan preventif melalui penyuluhan di tingkat masyarakat menjadi salah satu strategi yang terus didorong.
Selain mendapatkan tambahan personel, Polda Kalteng juga menerima dukungan berupa sarana dan prasarana untuk menunjang kegiatan pencegahan dan pemadaman karhutla. Peralatan tersebut akan didistribusikan kepada Polres jajaran agar dapat digunakan sesuai kebutuhan di wilayah masing-masing. Bantuan itu diharapkan memperkuat kemampuan petugas ketika harus melakukan penanganan kebakaran di lapangan. Sebagian sarana dan prasarana telah tiba di Kalimantan Tengah, sementara sejumlah peralatan lainnya masih dalam proses pengiriman melalui Bandara Banjarmasin. Distribusi perlengkapan tersebut menjadi bagian dari upaya memastikan jajaran kepolisian memiliki dukungan operasional yang memadai ketika menghadapi potensi kebakaran.
Kesiapsiagaan terhadap karhutla menjadi penting karena dampak kebakaran tidak hanya berkaitan dengan kerusakan lingkungan. Asap yang dihasilkan dari kebakaran lahan dapat mengganggu kualitas udara dan berpengaruh terhadap aktivitas masyarakat. Gangguan tersebut dapat meluas ke berbagai sektor, termasuk pendidikan, kesehatan, serta transportasi apabila konsentrasi asap meningkat. Polda Kalteng secara khusus menaruh perhatian terhadap kelancaran penerbangan karena bandara menjadi salah satu pintu utama transportasi di wilayah tersebut. Yosi mengingatkan agar penanganan karhutla dilakukan secara maksimal sehingga asap tidak sampai mengganggu aktivitas penerbangan maupun menyebabkan bandara harus ditutup.
Penguatan penanganan tersebut juga dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi sejumlah wilayah yang masih menghadapi ancaman kebakaran. Sebelumnya, Polda Kalteng telah menyiagakan ratusan personel melalui Operasi Aman Nusa-II untuk mengantisipasi karhutla selama musim kemarau. Tambahan 48 personel BKO dari Lemdiklat Polri menjadi dukungan lanjutan yang memperkuat unsur edukasi di tengah masyarakat. Kehadiran mereka dapat membantu Polres jajaran meningkatkan intensitas sosialisasi, terutama di kawasan yang memiliki potensi kebakaran lahan. Dengan adanya dukungan tersebut, kepolisian tidak hanya mengandalkan respons setelah api muncul, tetapi juga berusaha mempersempit peluang terjadinya kebakaran melalui langkah pencegahan.
Keterlibatan masyarakat menjadi salah satu faktor penting dalam strategi pengendalian karhutla di Kalimantan Tengah. Kebiasaan membuka atau membersihkan lahan dengan cara membakar dapat meningkatkan risiko munculnya titik api, terutama ketika kondisi lingkungan relatif kering. Karena itu, kepolisian terus mendorong masyarakat untuk tidak melakukan pembakaran lahan dan ikut menjaga wilayah dari potensi kebakaran. Edukasi yang dilakukan personel tambahan diharapkan dapat menjelaskan secara lebih langsung mengenai bahaya pembakaran serta dampak yang dapat ditimbulkan apabila api tidak terkendali. Partisipasi masyarakat juga diperlukan untuk melaporkan potensi kebakaran sejak dini sehingga petugas dapat bergerak sebelum api meluas.
Dukungan sarana dan prasarana juga memiliki peran penting dalam mempercepat respons ketika kebakaran ditemukan. Peralatan yang memadai memungkinkan petugas melakukan penanganan secara lebih efektif sesuai kondisi medan dan karakteristik kebakaran yang dihadapi. Distribusi perlengkapan ke Polres jajaran diharapkan membuat kemampuan penanganan tidak hanya terkonsentrasi di tingkat Polda, tetapi dapat diperkuat hingga wilayah yang berpotensi mengalami karhutla. Koordinasi antara kepolisian, pemerintah daerah, serta unsur terkait lainnya juga diperlukan untuk memastikan setiap kejadian dapat ditangani secara terpadu. Langkah tersebut menjadi semakin penting karena karhutla sering kali membutuhkan pengerahan sumber daya dari berbagai instansi secara bersamaan.
Dengan tambahan 48 personel BKO Satgas Edukasi Karhutla dan dukungan sarana prasarana dari Kapolri, Polda Kalteng kini memiliki penguatan tambahan untuk menghadapi ancaman kebakaran hutan dan lahan. Personel tersebut akan ditempatkan di sejumlah Polres jajaran untuk memperluas kegiatan edukasi dan pencegahan kepada masyarakat. Sementara itu, peralatan yang diterima akan didistribusikan untuk menunjang kegiatan pencegahan dan pemadaman di lapangan. Pemerintah dan kepolisian tetap perlu memantau perkembangan kondisi wilayah, terutama selama ancaman kebakaran masih ada. Dengan kombinasi antara kesiapan personel, dukungan peralatan, edukasi masyarakat, dan respons cepat terhadap titik api, upaya pengendalian karhutla di Kalimantan Tengah diharapkan dapat berjalan lebih optimal serta mencegah dampaknya meluas terhadap lingkungan dan kehidupan masyarakat.





