Kairo, 26 September 2026 – Sebuah misi arkeologi Mesir menemukan makam unik berbentuk piramida yang berasal dari periode Romawi di situs Bir al-Shaghala, Oasis Dakhla, Provinsi New Valley, Mesir barat daya. Makam yang diperkirakan berasal dari periode antara 30 SM hingga 395 M itu dibangun menggunakan batu bata lumpur. Struktur tersebut digunakan sebagai tempat pemakaman seorang pria bersama istrinya. Temuan itu memiliki rancangan arsitektur khas sekaligus sejumlah prasasti pemakaman yang tergolong langka. Para arkeolog menilai penemuan tersebut memberikan informasi baru mengenai praktik penguburan serta kehidupan keagamaan masyarakat oasis pada masa Romawi.
Makam tersebut ditemukan oleh tim arkeologi Mesir yang berada di bawah Supreme Council of Antiquities. Untuk mencapai bagian dalam makam, terdapat tangga yang terdiri atas 14 anak tangga menuju pintu masuk berbahan batu pasir. Pintu tersebut dibangun dengan gaya Mesir dan dihiasi prasasti hieroglif berupa mantra serta bacaan perlindungan untuk pemakaman. Bagian atasnya juga memiliki ornamen cakram matahari bersayap dan dua kobra. Elemen arsitektur tersebut memperlihatkan bertahannya tradisi Mesir kuno meskipun makam dibangun ketika kawasan itu berada di bawah pengaruh Romawi.
Salah satu temuan penting berada pada ambang atas pintu masuk makam. Arkeolog menemukan adegan langka yang menggambarkan jam ketujuh dari Amduat, salah satu teks mengenai dunia bawah dalam tradisi Mesir kuno. Amduat menggambarkan perjalanan malam dewa matahari Ra melewati dunia bawah selama 12 jam. Adegan tersebut disebut baru pertama kali didokumentasikan pada makam-makam di nekropolis Bir al-Shaghala. Pintu masuk makam juga ditemukan dalam kondisi tertutup lempengan batu yang menampilkan figur Osiris dan dikelilingi mantra perlindungan.
Dari pintu utama, akses berlanjut menuju sebuah aula melintang yang dibangun dari batu bata lumpur dan memiliki atap berkubah. Sebagian sisi barat atap tersebut diketahui telah runtuh. Di sebelah kanan aula terdapat dua ruang pemakaman berbahan batu bata lumpur yang dilapisi plester. Struktur berbentuk piramida berdiri pada bagian atas ruangan-ruangan tersebut. Susunan bangunan ini menjadi salah satu karakteristik yang membuat makam tersebut berbeda sekaligus menunjukkan perpaduan tradisi arsitektur yang berkembang di Oasis Dakhla pada periode itu.
Tim arkeologi turut menemukan sejumlah artefak di kompleks makam. Temuan tersebut mencakup prasasti pemakaman batu dengan ratapan berbahasa Yunani sebanyak 19 baris, meja persembahan, baskom pemurnian dari batu pasir, berbagai wadah tembikar, serta koin perunggu yang menampilkan Kaisar Romawi Konstantinus. Kajian awal terhadap prasasti menunjukkan pria yang dimakamkan bernama Pisechtes dan kemungkinan pernah bertugas sebagai hakim. Prasasti itu diperkirakan berasal dari akhir abad ketiga atau awal abad keempat Masehi. Temuan tersebut memberikan petunjuk mengenai kehidupan sosial dan budaya masyarakat yang menghuni kawasan oasis sekitar dua milenium lalu.
Bir al-Shaghala merupakan bagian dari nekropolis kota kuno Mothis, yang menjadi pusat Oasis Dakhla pada periode Ptolemaik dan Romawi. Supreme Council of Antiquities telah melakukan penggalian di kawasan tersebut sejak 2002. Berbagai musim ekskavasi sebelumnya menghasilkan makam dengan bentuk dan rancangan arsitektur yang beragam. Sejumlah makam memiliki halaman terbuka, tangga, altar untuk ritual pemakaman, serta tempat pemujaan pada tingkat atas yang ditutup struktur berbentuk piramida. Karakteristik tersebut menunjukkan perpaduan unsur Mesir kuno dengan pengaruh Yunani dan Romawi.
Temuan terbaru di Oasis Dakhla memperkuat bukti mengenai keberlanjutan tradisi keagamaan Mesir kuno selama periode kekuasaan Romawi. Penggunaan hieroglif dan Amduat hadir berdampingan dengan prasasti berbahasa Yunani serta artefak dari periode Romawi. Para peneliti juga menduga nekropolis tersebut kemungkinan digunakan oleh kelompok elite yang tinggal di pusat oasis pada masa itu. Kajian lanjutan terhadap prasasti, arsitektur, dan artefak diharapkan dapat memperjelas identitas penghuni makam serta praktik pemakaman masyarakat setempat. Penemuan ini sekaligus menambah gambaran mengenai percampuran tradisi Mesir, Yunani, dan Romawi di kawasan New Valley.





