Kampar, 25 Agustus 2026 – Personel Brimob Polda Riau turun langsung menangani kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Desa Rimbo Panjang, Kecamatan Tambang, Kabupaten Kampar. Dalam operasi tersebut, petugas harus menembus kepulan asap pekat untuk melakukan pemadaman sekaligus pendinginan di kawasan yang terbakar. Kondisi medan yang didominasi lahan gambut membuat penanganan tidak mudah karena api yang terlihat di permukaan belum tentu menandakan seluruh titik kebakaran telah benar-benar padam. Untuk meningkatkan keselamatan sekaligus membantu personel bekerja di area dengan paparan asap tinggi, Brimob Polda Riau membekali anggotanya dengan portable breathing apparatus atau alat bantu pernapasan. Peralatan tersebut memungkinkan petugas memperoleh suplai udara ketika harus masuk ke area yang dipenuhi asap.
Operasi penanganan karhutla di Rimbo Panjang dilakukan pada Selasa, 25 Agustus 2026. Personel Brimob dikerahkan bersama unsur gabungan lainnya untuk mengendalikan kebakaran yang terjadi di kawasan tersebut. Asap tebal menjadi salah satu kendala utama karena mengurangi jarak pandang dan membuat petugas harus bekerja dalam kondisi yang tidak nyaman. Selain menghadapi suhu panas dari titik api, personel juga harus berhati-hati ketika menyisir lahan untuk menemukan bara yang masih tersimpan di bawah permukaan. Kondisi tersebut membuat perlindungan terhadap petugas menjadi bagian penting dalam setiap tahapan operasi.
Dansat Brimob Polda Riau Kombes I Ketut Gede Adi Wibawa mengatakan pihaknya menyiapkan sebanyak 40 set portable breathing apparatus untuk mendukung penanganan karhutla. Peralatan tersebut digunakan ketika anggota harus bekerja di lokasi dengan tingkat paparan asap yang cukup pekat. Menurutnya, perlindungan pernapasan diperlukan agar personel dapat menjalankan tugas secara optimal tanpa mengabaikan keselamatan. Alat tersebut terutama membantu ketika anggota harus melakukan penyisiran dan pendinginan pada area yang masih mengeluarkan asap.
Portable breathing apparatus yang digunakan personel memiliki tabung udara bertekanan dengan kapasitas sekitar 6 liter. Dalam kondisi tertentu, suplai udara dari perangkat tersebut dapat digunakan sekitar 35 hingga 45 menit. Lama penggunaan bergantung pada tingkat aktivitas serta pola pernapasan masing-masing personel ketika berada di lapangan. Setelah persediaan udara habis, perangkat perlu diganti atau diisi kembali sebelum digunakan untuk operasi berikutnya. Sistem tersebut memungkinkan petugas memiliki perlindungan tambahan ketika harus bekerja di area yang tidak memungkinkan untuk mengandalkan udara terbuka.
Penggunaan alat bantu pernapasan menjadi semakin penting karena lahan yang terbakar di Rimbo Panjang merupakan kawasan gambut. Karakteristik gambut membuat proses pemadaman memiliki tantangan tersendiri. Api dapat merambat atau menyimpan bara di bawah permukaan tanah sehingga tidak selalu terlihat secara langsung. Bahkan setelah kobaran api di atas permukaan berhasil dipadamkan, titik panas masih dapat bertahan di dalam lapisan gambut. Apabila tidak dilakukan pendinginan secara menyeluruh, bara tersebut dapat kembali memicu kebakaran ketika kondisi kembali kering atau tertiup angin.
Karena itu, tugas personel tidak berhenti setelah api yang terlihat berhasil dikendalikan. Petugas harus melakukan penyisiran pada area yang telah terbakar untuk mencari bagian yang masih mengeluarkan asap. Titik-titik tersebut kemudian dilakukan pendinginan dengan menggunakan air agar bara di bawah permukaan dapat dikurangi. Proses ini membutuhkan ketelitian karena asap yang muncul dari tanah dapat menjadi tanda masih adanya panas di dalam lapisan gambut. Petugas juga harus memastikan area yang sudah ditangani tidak kembali menghasilkan asap setelah proses pendinginan selesai.
Dalam kondisi seperti itu, personel harus bekerja dengan perlengkapan keselamatan yang memadai. Selain breathing apparatus, Brimob Polda Riau menyiapkan perlengkapan lain berupa helm, senter, dan sepatu khusus untuk mendukung mobilitas anggota. Peralatan tersebut dibutuhkan karena operasi dapat berlangsung di area dengan jarak pandang terbatas dan kondisi permukaan tanah yang tidak selalu stabil. Senter membantu personel melihat kondisi di sekitar lokasi ketika asap menghalangi pandangan, sedangkan perlengkapan pelindung lainnya membantu mengurangi risiko cedera selama bergerak di medan kebakaran.
Sebanyak 45 personel Brimob Polda Riau diterjunkan dalam operasi penanganan karhutla di Rimbo Panjang. Mereka bekerja bersama personel Polres Kampar, TNI, BPBD, Manggala Agni, serta unsur perusahaan yang berada di kawasan tersebut. Secara keseluruhan, terdapat 283 personel gabungan yang dikerahkan dan dibagi ke dalam 10 regu. Pembagian regu dilakukan untuk memperluas jangkauan operasi sekaligus memastikan proses pemadaman dan pendinginan dapat dilakukan secara terkoordinasi. Dengan jumlah personel yang cukup besar, penanganan dapat dilakukan dari beberapa titik secara bersamaan.
Pemadaman di kawasan gambut membutuhkan strategi yang berbeda dibandingkan kebakaran pada lahan biasa. Air harus diarahkan tidak hanya ke api yang terlihat, tetapi juga ke bagian tanah yang berpotensi menyimpan bara. Petugas perlu melakukan penyiraman secara berulang dan memastikan suhu di sekitar titik kebakaran menurun. Apabila hanya bagian permukaan yang dibasahi, bara di bawah tanah masih dapat bertahan. Karena itu, proses pendinginan sering kali membutuhkan waktu lebih panjang daripada pemadaman awal.
Asap pekat juga menjadi tantangan karena dapat mengganggu kemampuan petugas untuk melihat sumber panas. Dalam kondisi jarak pandang terbatas, personel harus bergerak secara hati-hati agar tidak kehilangan arah atau masuk terlalu dekat ke area berbahaya. Breathing apparatus memberikan perlindungan tambahan sehingga petugas dapat bekerja lebih lama di lokasi dengan paparan asap tinggi. Namun, penggunaan alat tersebut tetap harus disertai pengawasan dan penerapan prosedur keselamatan. Kondisi lapangan dapat berubah dengan cepat apabila arah angin berubah atau titik api kembali membesar.
Kombes Ketut menegaskan bahwa keselamatan anggota menjadi salah satu prioritas dalam operasi penanganan karhutla. Target utama memang memastikan kebakaran dapat dipadamkan dan proses pendinginan selesai, tetapi personel juga harus dapat menyelesaikan tugas tanpa mengalami gangguan kesehatan maupun kecelakaan. Perlindungan terhadap anggota menjadi semakin penting ketika operasi dilakukan dalam waktu cukup lama dan di lingkungan dengan panas serta asap yang tinggi. Karena itu, kesiapan perlengkapan keselamatan menjadi bagian dari strategi penanganan kebakaran.
Penanganan karhutla di Kampar juga dilakukan bersamaan dengan pemantauan titik api di wilayah lain di Riau. Pemerintah dan aparat menggunakan data hotspot sebagai salah satu dasar untuk menentukan wilayah yang perlu mendapatkan perhatian. Namun, keberadaan hotspot tetap harus diverifikasi melalui pengecekan di lapangan karena tidak seluruh titik panas otomatis menunjukkan kebakaran aktif. Setelah ditemukan adanya api, personel dapat segera melakukan pemadaman dan dilanjutkan dengan pendinginan untuk mencegah api kembali muncul atau menyebar.
Karhutla yang terjadi di Riau tidak hanya memberikan dampak terhadap kawasan yang terbakar, tetapi juga dapat memengaruhi kualitas udara di wilayah sekitar. Asap dapat terbawa angin dan menyebar hingga ke kawasan permukiman. Kondisi tersebut membuat masyarakat perlu memperhatikan perkembangan kualitas udara dan mengurangi aktivitas di luar ruangan apabila asap semakin pekat. Polda Riau juga melakukan langkah perlindungan masyarakat dengan membagikan masker di sejumlah wilayah yang terdampak asap. Upaya tersebut menunjukkan bahwa penanganan karhutla tidak hanya berfokus pada pemadaman, tetapi juga pada perlindungan masyarakat.
Pencegahan kebakaran baru tetap menjadi bagian penting setelah operasi pemadaman dilakukan. Lahan gambut yang masih kering memiliki risiko kembali terbakar apabila terdapat sumber api baru. Karena itu, patroli dan pemantauan perlu terus dilakukan setelah proses pendinginan selesai. Petugas juga harus memastikan tidak terdapat aktivitas pembakaran terbuka yang dapat memicu munculnya titik api. Pengawasan bersama antara aparat, pemerintah daerah, pengelola lahan, dan masyarakat diperlukan agar kebakaran tidak kembali terjadi.
Penggunaan breathing apparatus oleh Brimob Polda Riau dalam penanganan karhutla Kampar memperlihatkan besarnya tantangan yang harus dihadapi petugas di lapangan. Mereka tidak hanya berhadapan dengan api, tetapi juga asap pekat dan bara yang dapat tersembunyi di bawah permukaan lahan gambut. Sebanyak 40 set alat bantu pernapasan disiapkan untuk mendukung personel ketika melakukan pemadaman dan pendinginan. Dengan dukungan 283 personel gabungan, operasi di Rimbo Panjang terus diarahkan untuk memastikan api benar-benar padam dan tidak kembali menyala. Di tengah upaya tersebut, keselamatan petugas tetap menjadi perhatian utama agar mereka dapat menjalankan tugas hingga tuntas dan kembali dalam kondisi sehat.






