Lagu Protes dari Album The Wall
“Another Brick in the Wall” dirilis pada tahun 1979 sebagai bagian dari album konsep Pink Floyd yang legendaris, The Wall. Lagu ini terdiri dari tiga bagian, tetapi yang paling populer adalah Part 2, di mana anak-anak paduan suara ikut bernyanyi dengan lirik penuh sindiran terhadap sistem pendidikan. Lagu ini kemudian menjadi salah satu anthem protes paling terkenal di dunia musik rock, menegaskan peran Pink Floyd sebagai band yang berani menyuarakan kritik sosial.
Kritik terhadap Pendidikan Otoriter
Makna utama lagu ini adalah perlawanan terhadap sistem pendidikan yang dianggap otoriter, kaku, dan menindas kreativitas. Lirik “We don’t need no education” dan “Hey, teacher, leave them kids alone” merupakan bentuk perlawanan terhadap guru dan sistem sekolah yang hanya fokus pada disiplin, aturan, serta penyeragaman murid, tanpa memberi ruang bagi kebebasan berpikir maupun ekspresi diri.
Bagi Pink Floyd, pendidikan yang represif hanyalah menambah “batu bata” dalam dinding psikologis dan sosial yang membatasi manusia. Setiap pengalaman traumatis di sekolah, setiap tekanan untuk tunduk, dianggap sebagai “another brick in the wall”—lapisan tambahan dalam dinding keterasingan yang semakin tinggi.
Paduan Suara Anak-anak sebagai Simbol
Keberadaan paduan suara anak-anak dalam lagu ini bukan sekadar hiasan, melainkan simbol perlawanan kolektif. Suara mereka menggambarkan generasi muda yang menolak dikekang oleh sistem lama, menegaskan bahwa pendidikan seharusnya membebaskan, bukan menindas.
Musik yang Menggugah
Dengan alunan bass yang khas, beat disko yang berbeda dari gaya Pink Floyd biasanya, serta vokal yang tegas, lagu ini mampu menyampaikan pesan protes dengan cara yang mudah diterima khalayak luas. Tidak heran jika “Another Brick in the Wall (Part 2)” menjadi salah satu single paling sukses Pink Floyd, bahkan meraih posisi nomor satu di banyak negara.
Resonansi Sosial dan Politik
Sejak dirilis, lagu ini kerap digunakan sebagai simbol perlawanan terhadap sistem otoriter di berbagai belahan dunia. Di Afrika Selatan, misalnya, lagu ini pernah dilarang karena dianggap membahayakan sistem apartheid. Hal ini menunjukkan betapa kuatnya resonansi sosial-politik yang terkandung dalam liriknya.
Pesan yang Masih Relevan
Lebih dari empat dekade setelah perilisannya, kritik Pink Floyd terhadap pendidikan masih terasa relevan. Banyak sistem sekolah di dunia masih bergulat dengan masalah serupa: kurangnya kebebasan berekspresi, kurikulum yang membatasi kreativitas, serta tekanan untuk mengikuti aturan tanpa ruang bagi pemikiran kritis.
Kesimpulan
“Another Brick in the Wall” bukan hanya sebuah lagu rock, tetapi juga manifesto perlawanan terhadap sistem pendidikan yang kaku. Pink Floyd berhasil mengubah pengalaman pribadi menjadi suara kolektif yang menginspirasi jutaan orang. Dengan musik yang kuat dan lirik yang provokatif, lagu ini mengingatkan kita bahwa pendidikan seharusnya membangun jembatan, bukan menambah dinding keterasingan.